Kemah Sastra; Penulisan Cerpen Berbahasa Lampung
Balai Bahasa Provinsi Lampung melaksanakan kegiatan Kemah Sastra; Penulisan Cerpen Berbahasa Lampung pada Selasa—Jumat, 11—14 November 2025. Kegiatan ini diikuti oleh 30 siswa SMP se-Provinsi Lampung dan 15 guru pendamping. Setiap Kabupaten mengirim 2 siswa, satu siswa laki-laki dan satu siswa perempuan, serta satu guru pendamping. Peserta kegiatan ini adalah penulis cerpen berbahasa Lampung yang mengikuti lomba Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat Provinsi Lampung. Kegiatan ini dibuka oleh Kasubbag Umum Balai Bahasa Provinsi Lampung, Rima Ulfayanti, M.H. “Siswa yang mengikuti kegiatan ini merupakan siswa pilihan yang telah menjadi pemenang di kabupatennya masing-masing. Tetaplah berkarya dan lestarikan bahasa Lampung,” kata Rima dalam sambutannya. Karya yang mereka lombakan di FTBI tingkat Provinsi direvisi lagi hingga menjadi sebuah karya yang layak diterbitkan dalam antologi cerpen berbahasa Lampung.
Hadir pada kegiatan ini sastrawan Lampung Elly Darmawati, cerpenis Novita Sari, dosen bahasa Lampung, Universitas Lmapung, Yinda Dwi Gustiara sebagai narasumber yang memberikan materi terkait penulisan cerpen berbahasa Lampung. Sastrawan Lampung yang akrab disapa Uwo Elly memberikan materi teknik penulisan cerpen. Narasumber selanjutnya, Novita Sari, menyampaikan materi tentang penulisan kreatif untuk menciptakan sebuah cerpen.
Sementara itu, Yinda dalam penjelasannya menyampaikan tentang pilihan kata dalam cerpen berbahasa Lampung. Senyum yang hangat dalam bahasa Indonesia tidak dapat serta merta diterjemahkan ke bahasa Lampung menjadi ‘senyum sai handop’. Handop dalam bahasa Lampung berarti hangat yang biasanya digunakan untuk hal yang berkaitan dengan suhu seperti air hangat ‘way handop.’ Menurut Yinda, kata handop berhubungan dengan suhu sehingga sebuah senyum tidak dapat disebut handop. Senyum yang hangat sebaiknya diterjemahkan menjadi jerimut say betik. Sebuah teks cerpen bahasa Lampung harus disesuaikan dengan rasa bahasa yang digunakan dalam percakapan, jangan diterjemahkan secara literal. Perlu pengetahuan budaya dan bahasa Lampung untuk menulis cerpen bahasa Lampung karena diksi yang sangat beragam pada setiap dialek dan subdialeknya. Jangan sampai kosakata antardialek dicampuradukkan.
